Selasa, 26 Februari 2019

MEMILIH


        Setelah lama ga nulis cerita, mari kita mulai lagi bercerita. Cerita apapun, mudah-mudahan dapat dipetik hikmah dan manfaatnya (dipetik? emang buah atau bunga kali ah).
Jadi ceritanya begini...........

Yah begitu...

Maaf, heureuy saalit. Hehe
        Jadi ceritanya waktu libur tepatnya hari kamis tanggal 3 Januari 2019, simkuring pergi  ke salah satu optik yang ada di jalan hazet. Optik Orbita namanya. Kenapa pergi ke optik? karena mau beli kacamata. Yaiyalah. Soalnya kacamata yang sebelumnya udah ga bisa dipake lagi. Dan penglihatan ini harus dibantu  supaya lebih jelas melihat masa depan.  Lebay.
        Kurang lebih 13.30 nyampe di optik. Langsung liat-liat frame yang ada di tokuy (duh meni tokuy bahasana). Tokuy teh etalase atuh bahasa kerena mah. Setelah sekilas liat frame, simkuring mengutarakan kepada pegawai optik bahwa simkuring ingin dicek mata, apakah minusnya bertambah atau tetap. Teteh pegawainya menunjukkan ruangan untuk periksa mata, yang ada di ujung sebelah kanan kalo dari pintu masuk mah. Masuk ke ruang itu, ternyata ada beberapa orang juga yang sedang diperiksa. Sebenarnya, untuk di cek mata itu kalo pesan dari  Pa Asep dosen IPA di UPI Bandung itu lebih baik ke dokter mata langsung. Karena di dokter mata itu,mungkin sebelum disarankan memakai kacamata kita terlebih dahulu disarankan untuk memakan apa misal yang bisa membuat mata kita sehat (koreksi bila keliru) . Tapi simkuring malah pergi ke optik. Langsung we lah. Karena apa coba? Karena perkiraan simkuring, sepertinya akan lebih mahal biaya periksa ke dokter mata daripada beli kacamata. (kacamatanya juga yg framenya standar sih).
      Lanjut, setelah menunggu beberapa menit  tibalah saatnya bagian simkuring diperiksa. Simkuring kira langsung disuruh duduk di kursi yang beberapa meter didepannya ada kombinasi tulisan angka dan huruf, tapi sebelum itu disuruh untuk duduk didepan alat. Entah apa namanya.  Nanti saya gugling nama dan gambarnya. Yang jelas kita disuruh menempelkan dagu dan membuka mata, dan disana kita bisa lihat gambar, entah gambar apa yang kadang terlihat blur kadang jelas.
Nah gambarnya seperti ini








Namanya keratometer ‘autorefractometer

       Beres diperiksa disana, langsung duduk di kursi pemeriksaan. Ditanya dulu sama tetehnya, apakah sudah pernah periksa? kacamatanya dibawa atau nggak? Udah dijawab lanjut periksa. Kita diminta memakai kacamata, yang kacanya bisa dituker-tuker. Sambil kita liat dan baca tulisan yang ada kurleb 5 meter didepan kita. Mulai dari tulisan gede sampe yang kecil. Dipapay. Burem atau jelas. Kalo burem kagak kebaca, tetehnya nuker kaca yang laen. Mata kita diperiksanya satu-satu. Yang kanan dulu. Udah beres yang kanan, terus yang kiri. Sudah beres dua-duanya. Langsung dicoba kaca keduanya, dan terdeteksilah minusnya berapa. Dan ternyata mata sebelah kanan minusnya nambah cuy.
Terus sama si tetehnya dikasih kertas, kayak keterangan minus yang kiri dan kanan berapa. Buat acuan kalo kita mau beli kacamata.
       Oke kita lanjut beli kacamata. Liat-liat lagi frame. Kalo ada pembeli yang lain yang lagi coba, simkuring samperin. Numpang nyoba. Hehe
      Kesana kemari, tapi belum ada yang sreg. Langsung lah simkuring berkonsultasi kepada mba frim, koncoku. Meminta pendapat frame yang cocok untuk simkuring. Oke. diguglingin deh frame yang sesuai dengan bentuk muka. Sebenarnya simkuring juga bingung, termasuk apakah muka simkuring ini teh. Nu pasti mah jebag. Wkwkwkw. Setelah diidentifikasi katanya termasuk yang oblong atau kacamatanya harus oblong. Diperlihatkanlah kepada pegawai optiknya, bahwa simkuring menginginkan frame yang seperti di hp. Beberapa frame dikeluarkan dari berbagai bahan dan merek. Simkuring coba dan sambil selfie, untuk selanjutnya di tunjukan kepada mbafrim. Ada 2 sih, saran dari mbafrim. Tapi kata dia lebih condong ke yang satu. Tinggal bagian saya yang memutuskan. Dan akhirnya setelah melewati masa  mencoba, memfoto, membandingkan, mendengarkan saran, mempertimbangkan dan diputuskan lah frame yang saya pilih dan beli adalah yang satunya lagi, alias bukan pilihan mbafrim.
Pyuuuh,
Kalo meliat ke sekeliling sepertinya saya pembeli terlama yang ada di optik itu. Gapapa yah. Hehe
Lalu adakah hikmah dari membeli kacamata ini?
Tentu ada.
Kalo secara langsung  yang berkaitan dengan  mata atau kacamata adalah : 
1. Jagalah mata kita
     2. Jangan main hp, laptop, liat tv ditempat yang gelap.   
     3. Kalo sudah punya kacamata, jaga baik-baik, jangan sembarang nyimpen
4. Sebelum berangkat ke optik, sercing dulu lah kira-kira frame yang diinginkan
Nah itu
Tapi selain itu adalagi hikmahnya.
        Entah berhubungan  atau tidak, atau ini mah hanya baper. Wkwkwkwkw
Simkuring selalu berpikir atau membayangkan bahwa kegiatan memilih kacamata ini khususnya, atau benda lain umumnya seperti kalo kita akan memilih jodoh. Asyiiik obrolannya tentang jodoh euy. Cikiciww. Apaansih.
       Yah, kita bebas aja sih pilih-pilih. Melihat mana yang cocok, yang kita sreg. Selain melihat kita juga bisa libatkan orang lain seperti keluarga dan sahabat untuk diminta pendapat. Apakah ini baik untuk kita, cocok untuk kita. Tapi pada akhirnya kita sendiri yang memutuskan, karena kita yang akan menjalanainya. Dan yang terpenting adalah libatkan Allah, karena ia lebih tau mana yang baik untuk hamba-Nya. Begitu.

*Tulisan Januari yang baru diposting Februari. Sayang kalo nggak diposting tuda, hasil buah pemikiran yang jarang berpikir.
*Nyambung atau tidak nggak masalah, namanya juga belajar.
*Bahasa yang digunakan tidak sesuai dengan EYD, tapi disesuaikan dengan keinginan simkuring. Terima Kasih                 
Sumber gambar :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar